MY JOURNAL

Monday, September 13, 2004

Hope this help

Cuma mau sharing jawaban interview sama Mbak Lis dari Koran Tempo, hope this help buat yang mau terbitin buku ;P

Cheers
Icha

· Kenapa menulis novel, bukan buku yang lain?
Sebetulnya dulu sekali ide awalnya saya justru kepingin membuat sebuah buku tentang dunia
Kepenyiaran/ broadcasting, sesuai dengan dunia yang saya geluti semenjak kuliah. Saya cinta
dunia broadcasting, dan ini adalah pe er saya ke depan. Tapi kenapa akhirnya saya memilih
novel, khususnya genre CHICK LITERATURE atau CHICKLIT, adalah karena berawal dari
kesukaan saya membaca beragam jenis buku, saya akhirnya berkenalan dengan buku-buku
bergenre chicklit—baik yang terjemahan atau luar. Setelah membacanya saya jatuh cinta, suka
sekali dengan gaya penulisan genre ini, tapi sekaligus gemas, karena dua hal :
1. Ternyata perempuan di belahan dunia manapun hampir sama ya masalahnya…jadi kenapa
kita tidak bercerita tentang kita sendiri? Waktunya perempuan Indonesia punya ceritanya
sendiri…
2. Cerita perempuan kita akan lebih menarik dan kuat karena kita bukan mereka, kita punya
different values dari budaya, agama, dan paham sosial kita yang justru bisa menjadi local
insight yang unik buat pembaca dari luar, walaupun itu tadi, we do have same issues with
them .
Dari situ, akhirnya saya memutuskan untuk menulis CHICKLIT BUATAN INDONESIA ASLI karena beberapa alasan :
1. Saya jatuh cinta dengan genre chicklit dan cara bertuturnya, simpel, light, entertaining, tapi
kadang bisa membuat kita setidaknya merenung.
2. Saya punya misi, sekarang setidaknya supaya pembaca CHICKLIT tanah air punya option
suatu cerita tentang kita sendiri, diantara serbuan buku-buku terjemahan dan luar.
3. Suatu hari nanti saya kepingin tulisan saya bisa menjadi representatif untuk INDONESIAN
CHICKLIT bagi pembaca chicklit di seluruh dunia.

· Apa yang membuat mba Nisha mengambil tema cinta sampai akhirnya novel itu berjudul
“Cintapucino?
Di Cintapuccino sebetulnya saya kepingin mengangkat satu tema yang mungkin “gue banget”
buat kebanyakan orang, yaitu tentang mempunyai seorang “NIMO”—mempunyai obsesi
terhadap seseorang , having obsession about someone, yang kadang
membuat kita melakukan hal-hal terkonyol, aneh dan gila dalam hidup kita karenanya. Dan
ternyata berhasil, karena dari banyak feed back yang saya terima dari pembaca, rata-rata
mereka berkomentar betapa mereka terhanyut dalam cerita itu sendiri karena ceritanya…sekali
lagi : “gue banget” 
Lalu kenapa Cintapuccino, hmm…ada satu karakter di chicklit saya, namanya Raka, dia adalah
mungkin potret kita kebanyakan dalam melihat satu hal. Dari hal sederhana sehari-hari, seperti
habit minum kopi, dan sedikit pengetahuan tentang ilmu kopi untuk membedakan au lait, latte,
capuccino, espresso…akhirnya Raka berteori sendiri tentang kisah cintanya dengan sang tokoh
utama Rahmi, bahwa saking naturalnya, cinta mereka seperti black coffee, karena black coffee
is the real coffee, so pure, natural. Lalu Cintapuccino itu cinta yang seperti apa? Mbak Lis
monggo baca bukunya… 




· Dari mana ide itu pertama kali muncul?
Ide menulis chicklit, seperti sudah saya ceritakan, adalah dari kesukaan membaca sampai
akhirnya berkenalan dengan genre tersebut dan jatuh cinta dengannya. Tapi untuk idenya
sendiri adalah dari pengalaman pribadi. Hmm…ada beberapa ide waktu itu yang kepingin saya
tuangkan, tapi akhirnya ide tentang obsesi itu yang saya ambil karena yang saya pikir paling
manusiawi…maksudnya, I believe for once in their life, everybody has their own
obsession….entah itu sama orang lain, atau sama sesuatu, betul gak Mbak?? 
Dan lagi, dari study saya tentang chicklit di situs-situs, yang menjadi kekuatan chicklit dibanding
dengan novel klasik, menurut beberapa sumber adalah cerita yang familiar dan sangat
personal— most of the books are penned from personal experiences –bercerita tentang tokoh
yang imperfect dalam perjuangan mencari cinta dan cita, dan ditulis dengan bahasa bertutur
sehari-hari yang ringan, serta mempunyai banyak bumbu kisah cinta dan humor yang
membuatnya kocak dan segar. Setelah membaca sebuah chicklit, orang sering berkomentar
betapa cerita itu “gue banget”—seperti melihat diri sendiri dari kacamata orang lain.

· Apakah ini novel pertama yang dibuat? (Kalau ada yang lainnya, bagaimana perkembangan
novel yang lain itu?)
Ya, ini chicklit pertama, Cintapuccino adalah debut saya dalam menulis chicklit.

· Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis sebuah novel? (Kalau novel “Cintapucino”
itu sendiri berapa lama?)
Saya menulis Cintapuccino sekitar 3 minggu, untuk draft pertama, yang kemudian seperti mobil,
saya test drive dulu pada teman-teman saya yang saya pikir adalah sasaran pembaca, dan
mereka mempunyai banyak referensi untuk buku-buku sejenis ( popular ficiton ) atau mereka
memang hobi membaca dan menulis. Lalu perbaikan-perbaikan, sampai akhirnya betul-betul
jadi yang siap cetak kurang lebih 3-4 bulan.

· Bagaimana ceritanya, sampai mba Nisha menawarkan buku itu ke penerbit? (Tolong ceritakan
liku-likunya mba, dari awal menawarkan sampai akhirnya diterima. Begitu juga pernak-
perniknya, seperti apakah sempat ditolak, berapa penerbit yang pernah ditawari, dan lainnya).
Dari awal saya menulis Cintapuccino, saya sudah berniat untuk mempublish buku ini. Dari situ
saya juga mulai menjajaki dan mencari informasi tentang beberapa penerbit. Satu concern
saya ketika mencari penerbit adalah, saya mencari partner—partner yang bisa mensupport
saya untuk mewujudkan apa yang saya ingin sampaikan dengan buku saya.
Draft yang saya kirim ke penerbit adalah draft ke 3 yang sudah saya uji coba dan saya perbaiki
sedemikan rupa, tapi selain membuat draft, saya juga melakukan research ke situs-situs penulis
chicklit luar seperti Jennifer Weiner ( penulis Good in Bed ), dan dari situ saya mendapat
banyak sekali tips berharga untuk mencari publisher.
Sebetulnya proses penulis di sini lebih mudah karena ada satu mata rantai yang dihilangkan
atau belum begitu populer yaitu fungsi agen—yang berperan seperti talent scout, dan
penghubung kepada penerbit. Jadi disini penulis bisa langsung kontak dengan publisher.
Saya membuat cover letter—ini adalah bagian dari seluruh tulisan yang paling mewakili ide atau
tema cerita dan gaya penulisan—lalu saya juga membuat profile saya, juga proposal yang
intinya adalah memberikan penerbit alasan “why me” untuk menerbitkan tulisan saya.
Dari awal saya sudah mengincar Gagas Media, karena saya pikir, dari beberapa buku terbitan
mereka, Gagas Media lebih inovatif dan terbuka terhadap ide-ide baru.
Alhamdulillah untuk kasus saya, usaha membuat cover letter dan proposal itu berhasil.


· Apakah yang mba Nisha bayangkan tentang liku-liku sebelum menulis buku dengan kejadian
yang ada di lapangan tetap sama, ataukah berbeda?. (Misalnya, mba Nisha membayangkan
semula mudah menulis buku sampai diterbitkan, dan kenyataannya memang mudah. Atau,
ternyata kenyataannya sulit).
Yang saya bayangkan sebelumnya adalah pasti sulit, tapi ya itu tadi karena sebelumnya saya
juga research dulu ke beberapa web, dan mendapatkan banyak tips dan masukan berharga,
saya bisa meminimalisasikan kesulitan-kesulitan yang tidak perlu. Sebetulnya karena masukan
dan tips yang saya baca juga yang membuat saya sudah mempersiapkan beberapa back up
plan kalau naskah saya ditolak penerbit. Intinya, saya berusaha stick to my goal, yaitu
menerbitkan chicklit saya, walaupun dengan rencana terakhir mencoba jalur independen
apabila naskah saya ditolak.


· Hambatan apa yang ditemui ketika menulis buku itu sampai diterbitkan?
Hambatan pertama adalah yang berhubungan dengan cerita, saya kesulitan mengembangkan
karakter NIMO—karena dalam Cintapuccino, saya memilih gaya bertutur orang pertama, meng-
aku. Sementara itu tokoh NIMO sendiri lebih seperti objek yang diteliti dan diamati oleh sang
penutur ( Rahmi ). Lewat banyak diskusi dengan teman-teman, akhirnya bisa juga dicoba untuk
lebih dikembangkan.
Hambatan kedua adalah meng-editnya sesuai halaman dari penerbit karena banyak
pertimbangan seperti harga jual, tebal buku, dll. Ini yang paling suliiit…karena buat saya
secara subyektif, sama pentingnya. Untungnya penerbit saya GAGAS MEDIA malah memberikan
tugas ini pada saya, karena menurut mereka, lebih baik saya yang meng-edit karena saya yang
tahu persis ceritanya, walaupun mereka tetap memberika beberapa masukan. Ketika selesai,
saya senang karena hasilnya lebih tidak bertele-tele, lebih padat, dan ya….walau sulit, memang
lebih enak meng-edit karya sendiri ketimbang tiba-tiba dipotong oleh orang lain
hahahahhaha…untung akhirnya editan saya di approved juga.

· Berapa penghasilan yang mba Nisha peroleh dari novel itu?
Hmmm…ini yang sulit Mbak, karena saya dibayar berdasarkan royalti, dengan rekapitulasi
perhitungan penjualan setiap beberapa bulan. Tapi buat saya, menulis dan menerbitkan buku
adalah salah satu cara membangun aset, karena ya itu tadi, sistem royaltinya…itu tabungan
berharga sepanjang masa, karena selama buku itu terus dicetak, royalti akan tetap
ada…sekarang masalahnya, how to make books that sells forever seperti buku-buku Alfred
Hitchcock atau Enid Blyton? 

· Selain novel, tulisan apa lagi yang mba Nisha sudah buat?
Cerpen saya dulu pernah dimuat di Kawanku, sekitar tahun 1993-1994. Lalu ada juga tulisan
untuk tabloid kampus di ITB ( Boulevard ).

· Bagaimana perkembangan tulisan tersebut? Apakah juga sukses seperti novel “Cintapucino”?
Depends, buat saya waktu itu, dimuat di tabloid kampus dan majalah sudah sangat
menyenangkan. Tapi saya hampir tidak pernah mengirim tulisan saya ke media, karena dulu
saya menulis belum seserius sekarang, lebih untuk ekspresi pemikiran sendiri, atau untuk
dibaca teman-teman dekat. Waktu itu belum terpikir untuk meng-go public-kan tulisan
saya…hahahaha, karena ya itu tadi, karena tidak serius, idenya kadang dibiarkan ngambang
lamaaaa….dan akhirnya keburu kehilangan momen hahahaha…

· Tulisan apa lagi yang akan mba Nisha buat berikutnya? Apakah masih novel? Bagaimana
dengan temanya, apakah masih soal cinta?
Saya memberi pr terhadap diri sendiri untuk menulis tentang dunia yang saya cintai, dunia radio
broadcasting…tapi untuk beberapa waktu ke depan, saya mau mencoba konsisten di genre
CHICKLIT, karena ya itu tadi, saya punya visi dan misi tertentu lewat menulis di genre ini. Saya
sekarang sedang menulis chicklit berikutnya…issuenya bukan tentang cinta, tapi tentunya ada
bumbu cinta karena…karena love is actually everywhere!!!
Oya, sebetulnya di chicklit yang saya tulis, walaupun frame / keemasannya cinta, saya kepingin
“menyumbang” beberapa pemikiran saya lewat bahasa bertutur yang light dan sangat
keseharian, simpel. Misalnya, saya pribadi adalah perempuan yang berpikir bahwa sebagai
perempuan, kita punya kesempatan lebih banyak dan bagus untuk berwiraswasta, dan saya
pikir bekerja dari rumah via SOHO ( small office, home office ) atau berwiraswasta memberikan
kita kesempatan lebih banyak untuk kalau berkeluarga nantinya, bisa memanajemen dan
mengurus anak (supaya tidak menjadi anak “nenek” atau anak pembantu ) tanpa dilema-dilema
aturan waktu, potong gaji dll….dengan waktu yang lebih fleksibel untuk keluarga, dan waktu
yang lebih fleksibel untuk memanjakan diri sendiri heheheueheu…Oya, kenapa saya bilang
perempuan lebih mudah dan berkesempatan lebih bagus adalah karena kita selalu bisa mulai
dari sesuatu yang kecil, yang “remeh” seperti menjahit, bikin kue, dll, tapi untuk laki-
laki…pressurenya untuk mendapatkan nafkah tetap tiap bulan untuk keluarga membuat mereka
lebih sulit lagi, pilihannya tidak sebanyak kita perempuan.
Nah, tokoh perempuan saya adalah perempuan yang berwiraswasta…
Saya juga suka menyentil isu-isu kecil yang sering terjadi di keseharian kita. Misalnya kadang
orang tua itu kalau punya anak perempuan, begitu anaknya lulus kuliah, kebanyakan lebih
peduli soal jodoh anaknya ketimbang perkembangan kariernya. Asal bekerja sudah bagus, tapi
yang lebih penting lagi…kapan menikah…??? 
Atau ketika acara perkenalan keluarga dengan calon besan yang kadang jadi ajang yang sangat
menghakimi terhadap atribut-atribut…yaaah small stuff yang kayak gitu deh Mbak…

· Menurut mba Nisha, bagaimana masa depan penulis buku di Indonesia?
Saya pernah interview satu penulis senior favorit saya dan menurutnya pribadi, menulis harus
dibebaskan dari tuntutan komersil untuk menjaga agar kualitasnya tetap sama, tidak terburu-
buru seperti kejar setoran. Well, saya pikir she’s got her point, tapi saya pikir…it depends ya,
objective menulis sang penulis itu sendiri. Objective ini akan menentukan tulisan seperti apa
yang akan digeluti. Apakah lebih sebagai seniman, sebagai tutor ( buku-buku self help dll ),
atau sebagai source akan sesuatu bidang keahlian( misal bidang IT, dll ).
Prospeknya bagus, asalkan ya itu tadi, tetapkan tujuan mau menulis apa, untuk siapa, seperti
apa. Lagipula dengan semakin banyaknya rumah baca, café-library, dengan kampanye-
kampanye mereka mengenai support literacy movement, prospeknya bisa sangat bagus.

· Menurut mba Nisha, bagaimana sebaiknya para penulis, terutama yang pemula, memasuki
dunia buku dengan baik dan benar sehingga bisa sukses?
Rasanya sudah terjawab ya…ini dari sharing pengalaman saya ya, ya itu tadi, tetapkan
objective, goal…menulis apa, untuk siapa, dengan gaya seperti apa, lalu research awal
mengenai penerbit-penerbit mana yang bisa se-ide, lalu membuat rencana how to make them
interested in your work, kurang lebih seperti itu…saya juga masih banyak pe er yang harus
dipelajari.

· Apakah ada tips dari mba untuk para penulis pemula untuk bisa sukses masuk ke dunia buku
Sudah terjawab juga kan mba?  Oya, satu lagi, pantang mundur!!!